ALAMAT
Jl. Raya Narogong KM 6 no.2, RT001/RW 041, Kel. Bojong Rawalumbu, Kec. Rawalumbu, Kota Bekasi
Stabilitas kualitas air bersih menjadi perhatian penting di banyak sektor industri. Air bersih yang memiliki parameter konsisten membantu proses produksi berjalan lancar. Water Treatment Plant (WTP) hadir sebagai sistem yang mengolah air baku agar memenuhi kebutuhan operasional industri, bangunan komersial, ataupun fasilitas publik.
Meskipun banyak teknologi WTP tersedia, keberhasilan sistem sangat bergantung pada tahapan pengolahannya. Setiap tahap memiliki fungsi spesifik yang saling terhubung. Karena itu, pemahaman yang jelas mengenai setiap proses menjadi kunci agar WTP bekerja stabil dalam jangka panjang.
Artikel ini membahas 10 tahapan penting dalam WTP yang sering menjadi penentu keberhasilan sistem pengolahan air bersih. Penjelasannya dibuat informatif, sistematis, dan sesuai dengan praktik umum yang digunakan di berbagai industri.
Tahapan pertama pada WTP dimulai dari pengambilan air baku. Proses ini bertujuan membawa air dari sumber seperti sungai, sumur, danau, atau saluran tertentu menuju unit pengolahan. Sistem intake biasanya dilengkapi bar screen untuk menyaring benda berukuran besar.
Dengan adanya bar screen, risiko penyumbatan pada proses berikutnya menjadi lebih kecil. Selain itu, operator dapat mengontrol debit air masuk agar sesuai dengan kebutuhan WTP.
Air baku mengandung partikel koloid yang sulit mengendap. Karena itu, koagulasi digunakan untuk membantu partikel-partikel kecil saling bergabung. Proses ini membutuhkan bantuan koagulan seperti PAC atau tawas.
Ketika koagulan ditambahkan, partikel akan saling menarik dan membentuk ikatan awal. Tahap ini menjadi dasar bagi proses flokulasi agar partikel dapat mengendap lebih cepat.
Setelah koagulasi, air masuk ke proses flokulasi. Pada tahap ini, partikel-partikel kecil yang telah terikat mulai membesar dan membentuk flok. Agitasi lambat digunakan agar flok tidak pecah.
Flok yang terbentuk dengan baik akan mempermudah proses sedimentasi. Karena itu, pengaturan kecepatan agitasi menjadi faktor yang harus diperhatikan.
Sedimentasi berfungsi memisahkan flok yang terbentuk. Pada tahap ini, air mengalir perlahan sehingga partikel berat dapat mengendap di dasar. Unit sedimentasi biasanya menggunakan sistem lamella, inclined plate, atau clarifier.
Ketika sedimentasi berjalan stabil, beban pada proses filtrasi menjadi lebih ringan. Oleh karena itu, banyak WTP memprioritaskan efisiensi sedimentasi agar proses berikutnya lebih optimal.
Setelah proses fisik-kimia awal selesai, air dialirkan ke unit filtrasi. Pada tahap ini, media seperti pasir silika, karbon aktif, mangan zeolite, atau keramik membantu menghilangkan sisa partikel halus.
Filtrasi bekerja sebagai penyaring terakhir sebelum air masuk proses disinfeksi. Karena itu, kualitas media filter serta frekuensi backwash menjadi faktor penting yang mempengaruhi performa hasil akhir.
Disinfeksi dilakukan untuk mengurangi mikroorganisme yang mungkin masih tersisa setelah filtrasi. Metode yang umum digunakan meliputi klorinasi, UV sterilizer, atau ozonisasi.
Pemilihan metode disinfeksi biasanya disesuaikan dengan standar kualitas air yang dibutuhkan. Misalnya, penggunaan UV menjadi pilihan ketika industri tidak ingin meninggalkan residu pada air.
Beberapa proses industri membutuhkan air dengan pH tertentu. Karena itu, tahap penyesuaian pH dilakukan agar air berada dalam rentang ideal. Bahan seperti soda ash atau asam kuat sering digunakan dalam proses ini.
Dengan pH yang stabil, risiko korosi atau kerak pada peralatan produksi dapat diminimalkan.
Industri yang menggunakan boiler atau heat exchanger sering mengalami masalah terkait kesadahan air. Karena itu, proses softening dilakukan untuk mengurangi kandungan kalsium dan magnesium.
Proses ini dilakukan menggunakan resin penukar ion yang mampu menahan mineral penyebab kesadahan. Setelah resin jenuh, proses regenerasi dilakukan agar sistem kembali bekerja dengan baik.
Pada beberapa WTP, proses polishing filter digunakan sebagai tahap penyempurnaan. Filtrasi lanjutan ini biasanya menggunakan cartridge filter atau membrane microfiltration.
Tujuan utamanya adalah menurunkan tingkat kekeruhan dan menghilangkan partikel mikro yang tidak teratasi pada unit sebelumnya.
Tahap terakhir adalah pendistribusian air bersih. Pada tahap ini, air dipompa menuju titik pemakaian. Sistem distribusi harus mempertahankan tekanan yang stabil agar aliran tetap lancar.
Selain itu, operator perlu memastikan jalur pipa tetap bersih dan tidak mengalami kebocoran agar kualitas air tetap terjaga hingga titik pemakaian.